SEJARAH
NASYIATUL AISYIYAH
Nasyiatul Aisyiyah lahir dengan semangat para kadernya untuk memberdayakan perempuan. Di bawah bimbingan Bapak Sumodirjo, seorang tokoh Muhammadiyah dari Kauman Yogyakarta, sekelompok remaja perempuan yang bersekolah di Standart School Muhammadiyah membentuk organisasi bernama Siswa Praja Wanita (SPW). Para remaja putri yang bergabung dalam SPW ini menggunakan waktu di luar jam sekolah untuk mempelajari berbagai hal, tidak hanya materi keagamaan seperti yang diajarkan di Standart School, sekolah Muhammadiyah pertama yang berdiri pada tahun 1918. Mereka juga mendapatkan pelatihan keterampilan seperti menjahit, memasak, dan berpidato (Setiawati, 1985).
Selain itu, mereka belajar tentang kepemimpinan dan solidaritas kelompok, sebuah aktivitas yang cukup jarang dilakukan oleh anak perempuan pada masa itu (Syamsiyatun, 2006). Keaktifan mereka tidak hanya didukung oleh Muhammadiyah sebagai organisasi induk, tetapi juga karena keberanian dan integritas para kader Nasyiah yang berani melampaui batasan-batasan sosial pada zamannya.
Sejak awal, Nasyiah telah memberikan perhatian besar pada pendidikan kader melalui sistem pembelajaran berdasarkan kelompok usia. Inisiatif SPW ini diwujudkan dengan mendirikan sekolah-sekolah bagi remaja putri, seperti jamiatul athfal (7–10 tahun), tajmilul akhlak (10–15 tahun), dan tholabus saadah (15–18 tahun). Pada kelompok jamiatul athfal, misalnya, pertemuan diadakan dua kali seminggu dengan kegiatan seperti membaca Al-Qur’an, menyanyi, kerajinan tangan, dan olahraga.
Semangat utama Nasyiah sejak awal adalah memberdayakan perempuan agar memiliki akses yang setara terhadap pendidikan agama dan sosial. Hal ini tercermin dalam syair mars Nasyiah “bekerja digemari,” yang diwujudkan melalui aktivitas sederhana tetapi penuh makna dalam mendidik perempuan. Gerakan ini bertujuan memberikan solusi atas tantangan di masanya, menjadi kunci perjuangan Nasyiah sepanjang waktu.
Pendidikan dipandang sebagai sarana strategis untuk mempersiapkan generasi penerus, termasuk dalam lingkup Nasyiah. Dengan perkembangan yang terus terjadi, Nasyiah memerlukan sumber daya manusia (kader) yang memadai untuk mendukung misi dakwahnya. Oleh karena itu, fungsi kaderisasi di Nasyiah harus terus dijaga dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Nasyiah juga harus fleksibel dalam menyesuaikan diri terhadap kebijakan organisasi, termasuk strategi pengembangan kaderisasi.
Sejarah Nasyiatul Aisyiyah Karanganyar
Di Bumi Intanpari, jejak jejak berdirinya Nasyiatul Aisyiyah bermula dari Muhammadiyah Cabang Karanganyar yang telah membentuk struktur pimpinan salah satunya Bidang Nasiyatul Aisyiyah pada tahun 1957. Bidang tersebut dipimpin oleh Supartini binti Zubaidi yang nantinya menjadi embrio tumbuhnya Nasiyatul Aisyiyah di Kabupaten Karanganyar.
Sedangkan secara resmi Nasiyatul Aisyiyah Kabupaten Karanganyar berdiri pada tahun 1978. Dimasa perintisan Nasiyatul Aisyiyah Karanganyar, dipilihlah Endang Sri Handayani sebagai ketua pertamanya Pimpinan Daerah Nasiyatul Aisyiyah Karanganyar. Ia menjabat selama dua periode, tahun 1978-1988. Di awal kepemimpinannya, Nasyiatul Aisyiyah dalam hal kegiatan masih mengikuti kegiatan- kegiatan yang diselenggarakan oleh Aisyiyah.
Pada periode kedua, Nasyiatul Aisyiah semakin berkembang pesat, dibuktikan dengan berdirinya delapan Cabang Nasyiatul Aisyiyah di Bumi Intanpari, diantaranya ; Karanganyar, Tasikmadu, Matesih, Kebakkramat, Gondangrejo, Colomadu, Jatiyoso, Jaten dan Mojogedang. Selain itu, Nasyiatul Aisyiyah juga menggelorakan ekonomi mandiri bagi organisasi. Badan Usaha Ekonomi NA pun berdiri di Tawangmangu dengan diberi Nama Bu-Eka.
Masa kepemimpinan berikutnya dilanjutkan Hidiyah Rohmani ( 1988-2003), selain didaulat sebagai Ketua Umum Nasyiatul Aisyiyah, ibu tiga anak ini juga dipercaya menjadi pengurus Aisyiyah dengan jabatan sebagai Sekrekaris Bidang Kader Aisyiyah. Pada periode ini, kegiatan kajian dan pengkaderan semakin masif, sehingga cabang Nasyiatul Aisyiyah bertambah dan terbentuk di Kecamatan Jatipuro dan Jumantono.
Setelah Hidiyah Rohmani, periode berikutnya (1993-1998) Nasyiatul Aisyiyah dipimpin oleh Sri Yuniati. Disamping meneruskan program kerja kepengurusan sebelumnya, setiap bulan diadakan turba dan kajian ke-cabang. Pada masa ini cabang Nasyiatul Aisyiyah bertambah lagi mejadi 16 cabang, diantaranya; Karanganyar, Colomadu, Matesih, Kebakkramat, Mojogedang, Tawangmangu, Jumapolo, Jatipuro, Jaten, Jatiyoso, Kebakkramat, Kerjo, Jumantono, Tasikmadu dan Karangpandan.
Memasuki tahun 1998, estafet kepemimpinan Nasyiatul Aisyiyah beralih dari Sri Yuniati kepada Lailatul Hasanah. Pengkaderan semakin digalakkan sehingga Kecamatan Jenawi sebagai cabang terakhir pun terbentuk. Disisi lain, pada kepengurusan ini juga menggalakkan pendirian ranting di beberapa kecamatan.
Tahun 2008, berpindahlah kepemimpinan Nasyiatul Aisyiyah kepada Khoiriyatul Wahyuningsih. Pada masa kepemimpinan ini, Nasyiatul Aisyiyah hanya menjalankan kegiatan rutin kepengurusan sebelumnya. Selain sebagai Ketua Nasyiatul Aisyiyah, perempuan tangguh ini juga memiliki beberapa bisnis yang dijalankannya. Dari bekal enterpreneurship inilah kegiatan-kegiatan pada kepengurusannya banyak dilakukan pembinaan dan pelatihan keterampilan bagi pengurusnya. Pelatihan yang pernah diselengarakan diantaranya; Pelatihan Hijaber, Pelatihan Informatika dan lain sebagainya. Dimasa ini beberapa cabang meredup, bahkan kepengurusan di cabang mati suri.
Tahun 2012, Umi Masruroh didaulat sebagai penerus Khoiriyatul Wahyuningsih. Pada periode ini, cabang yang sempat mati suri berhasil diaktifkan kembali. Mulailah koordinasi dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah maupun Aisyiyah, dan berhasil menghidupkan kembali kajian di 17 Cabang Nasyiatul Aisyiyah.
Pada masa ini kegiatan Nasyiatul Aisyiyah di barat lereng Gunung Lawu mampu berkembang pesat. Bidang-bidang berjalan sesuai tujuannya, diantaranya :
- Pendirian Toko Suara Muhammadiyah Cabang Karanganyar
- Menggerakkan Badan Usaha Nasiyatul Aisyiyah di PKU
- Pembentukan Pelayanan Remaja Sehat milik NA (Pasmina)
Periode berikutnya (2016), regenerasi kepemimpinan Nasyiatul Aisyiyah berpindah dari Umi Masruroh kepada Sartini. Sartini bersama pimpinan lainnya, semakin mengembangkan kegiatan Nasyiatul Aisyiyah di Bumi Lawu ini. Terbukti beberapa kegiatan semakin berkembang, dantaranya :
- Pengelolaan dan pengembangan Toko Suara Muhammadiyah Cabang Karanganyar
- Pengelolaan dan pengembangan Badan Usaha Nasiyatul Aisyiyah di PKU
- Pengembangan Kajian Kesilaman di Cabang Nasiyatul Aisyiyah se-Kabupaten Karanganyar
- Pendampingan masa pubertas anak SD
- Pembentukan Kantor Layanan Lazismu
